Lomba derkuku: Sinar Baru Kembali Bersinar

Babak ketiga lomba derkuku Grand Prix I di Tulungagung menjadi puncak prestasi Sinar Baru. Pada babak awal dan kedua ia meraih nilai 43V2. Di babak ke-3, burung derkuku milik Kelantan Mas Bird Farm yang baru selesai rontok bulu menyabet poin tertinggi 433/4. Umbul-umbul akhirnya tertancap di gantangan nomor 10, setelah empat warna bendera diraih pada babak ke-4.

Unjuk kebolehan Sinar Baru kali ini maksimal,” kata Joko, ketua seksi penjurian. “Dia betul-betul fight setelah 3 minggu rontok bulunya selesai,” tutur Yusuf Kelantan sang pemilik. Sebelumnya Sinar Baru hanya menduduki peringkat ke-4 pada acara konkurs di Jakarta.

Prestasi Sinar Baru menggeser pamor Kaisar yang harus rela berada di urutan ke-4. Kelas Grand Prix memang menjadi ajang pertarungan para jawara, “Karena cuma tersedia 36 gantangan, burung berkualitas saja yang masuk,” kata Slamet, ketua panitia.

Di blok senior penampilan Dagadu Yogya yang menyabet juara 1 tak kalah memukau. Di tempat kedua dan ketiga, Don Juan dan Untung. Sementara di blok yunior, tanpa diduga pendatang baru Cha-cha dari Ngawi merebut tempat teratas. Menyusul Sujiwo Tetep dan Dinamo menempati urutan kedua dan ketiga. Kelas pemula juga menjadi arena teramai seperti di kelas yunior. Masing-masing kebagian jatah 2 blok. Pemenang 1—3, Putra Bintang, Kancil, dan Papa Raca.

Saingan ketat

Ramainya konkurs terlihat dari asal peserta. Para maniak derkuku datang dari seputar Jawa Timur, Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan Bali. Sejumlah 324 gantangan yang tersedia hampir penuh terisi. Panitia terpaksa mengurangi jatah nomor yang dipesan beberapa pendaftar demi pemerataan.

Kejuaraan derkuku berkaliber nasional ini dikawal 10 juri dari PPDI pusat maupun Pengda setempat. “Masing-masing blok kami bagi 36 gantangan agar juri lebih cermat,” kata Slamet. Pernyataan ketua panitia ini bukan basa-basi. Setiap gerak derkuku dipantau ketat oleh juri.

Sastro misalnya fight di babak pertama, di babak kedua tak seorang pun juri yang mendengar anggungannya. Namun, di babak ketiga Sastro kembali beraksi dengan menyabet nilai 431/2. Pada akhir babak, kebolehan Sastro cuma mengantarnya di peringkat ke-15 kelas senior.

Di kelas Grand Prix suasana menegangkan terasa lebih mencekam lagi. Nogososro, derkuku tak terkalahkan pada 1999 dibuat tak berkutik di ajang ini. Walaupun di babak pertama fight, di putaran ke dua ia hanya dapat pujian 2 bendera.

Dan selanjutnya nyaris tak beraksi apa-apa. Alhasil namanya tak tercantum di deretan 10 besar pemenang kelas Grand Prix. Hal sama teijadi pada Kaisar milik KLM BF. Walaupun tak separah Nogososro, kakak seperguruan Sinar Baru yang cukup melegenda itu terpaksa mengalah dan hanya bertengger di urutan ke-4.

Derkuku kelantan

Sinar Baru yang menjadi juara Grand Prix menurut pemiliknya memang mempunyai kekhasan tersendiri. Di babak awal biasanya ia memang agak lemah, “Paling-paling hanya dapat 3 warna,” kata Yusuf. Di babak selanjutnya ia mulai memanas dan bisa meraih 4 warna.

“Seperti di lomba ini, puncak suara teijadi di babak ke-3,” tambah Yusuf. Walaupun di babak terakhir melemah, Sinar Baru masih mendapat 4 warna. Yang istimewa menurut Yusuf, Sinar Baru suara ngriung-nya ada “bunganya”. Suara belakang tidak panjang tidak pendek tetapi “sopan”.

Secara umum derkuku berdarah kelantan memang masih merajai arena. Lihat saja Desy rival Sinar Baru dan Misteri Tombo Ati yang berada di peringkat ke-5 kelas Grand Prix.

Mereka turunan dari ring KLM BF Ngunut, Tulungagung milik Yusuf Kelantan yang sudah diternak orang lain. “Satu tahun mendatang dunia derkuku akan semakin ramai,” tutur Yusuf yang beternak sejak 1977. Derkuku kualitas terbaik akan dihasilkan oleh peternak yang berani memakai bibit unggul kelantan.

Sebelum acara lomba selesai, hujan rintik-rintik sempat mewarnai jalannya lomba. Ada yang pesimis, pergantian cuaca melemahkan potensi gacoannya masing-masing. Ketika panitia memberikan aba-aba tanda putaran keempat berakhir, masing-masing pemilik serta-merta menghampiri gantangan dengan aneka ekspresi.

Ada yang kelihatan pesimis, juga optimis burungnya dapat ranking. Walaupun Kumbayana “jagoan” yang dibawa Hengki Kumis pemilik Sarawita BF Jakarta cuma kebagian rangking 9. “Secara keseluruhan kami puas dengan lomba ini,” katanya kepada Kami.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.