kemarau berkepanjangan warga NTT terpaksa konsumsi ubi beracun

Posted by

Akibat kemarau panjang warga Nusa Tenggara Timur harus bertahan hidup dengan mengkonsumsi ubi beracun mereka terpaksa melakukan hal ini untuk menghindari kelaparan karena panen mereka gagal. Kemarau panjang yang melanda Nusa Tenggara Timur membuat sebagian warga mengalami gagal panen untuk bertahan hidup warga desa laipandak kabupaten Sumba timur harus masuk hutan untuk mencari bahan makanan tidak punya banyak pilihan warga terpaksa mengkonsumsi ubi beracun demi terhindar dari kelaparan padahal untuk mendapatkan ubi beracun itu warga harus menempuh medan yang tidak mudah.

Kemiskinan dan kekeringan mengubah segalanya warga di Kabupaten Sumba Timur Nusa Tenggara Timur saat ini terpaksa mengonsumsi umbi beracun warga setempat biasanya menyebut Uwi atau Iwi, hal ini terjadi karena semakin menipisnya bahan pangan warga yang biasanya mengonsumsi jagung dan beras apalagi harga pangan kini kian tidak tak terjangkau, agar pencarian uwi didapat sebanyak mungkin tidak hanya orang tua yang mencari umbi beracun tapi anak-anak juga mencari bahan makanan yang sebenarnya tak layak konsumsi ini.

Untuk mencari umbi beracun bukanlah hal mudah warga Desa Laedapak Kecamatan Wulawaijilu ini mencari umbi beracun di sekitar hutan yang jauh dari tempat tinggal mereka, karena beracun uwi tidak bisa langsung dikonsumsi, sebelum dimasak uwi harus diolah beberapa tahapan agar racun yang terdapat dalam uwi dapat hilang.

Setelah ubi di dapat warga meski harus mengolahnya untuk menghilangkan kandungan racun proses pengolahan ini memakan waktu hingga 1 Minggu bila tidak hati-hati warga bisa meregang nyawa akibat keracunan tapi mereka punya pilihan lain kondisi ini telah berlangsung selama satu bulan. Warga berusaha bertahan hidup dengan cara seperti ini karena hingga kini belum ada tanggapan pemerintah setempat terkait kondisi yang mereka alami warga berharap ada bantuan dari pemerintah untuk menjamin kelangsungan kehidupan mereka.



Berita Terbaru Updated at: 12.56.00

0 comments:

Posting Komentar